• Latest News

    Friday, November 11, 2011

    Hari Pahlawan jadi Pahlawan dicampus Kami

    Pembaca  blogKOe mungkin bingung dengan judul saya, karena dari sejarah lama muncul sejarah baru disekolah kami, semula menggunakan bandwidth dengan paket game...dan saya yakin pasti kenceng, alhasil memang iya, semenjak ada kekacauan migrasi softwaere dari ISP, akhirnya berdampak pada IP Public kami yang kemungkinan kena spam, sehingga browsing jadi lemot, tapi download tetep kenceng.

    Nah kebetulan ada Schoolnet zona 2011 dan sejarah ini saya masukkan pada Catatan saya, Tanggal 10 Nopember migrasi bandwidth ke schoolnet, Alhamdulillah sekarang browsing kenceng cuma download berkurang sedikit, tidak apa-apa. mungkin bulan depan ditambahi dengan bandwidth dari ISP lain....biar tuambah kuenceeeeng.

    Kalau sejarah dulu bisa kita simak cerita berikut :
    10 November merupakan peristiwa sejarah  perang antara Indonesia dan Belanda. Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang. 3 tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. pada Agustus 1945. Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sebelum dilucuti oleh sekutu, rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober.
    Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Ternyata tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) membonceng. Itulah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia.

    Di Surabaya, dikibarkannya bendera Belanda, Merah-Putih-Biru, di Hotel Yamato, telah melahirkan Insiden Tunjungan, yang menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan badan-badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober. Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
    Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk. dan banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar.

    Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang.
    Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.
    Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.




    Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama’ serta kiyai-kiyai pondok jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kiyai-kiyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kiyai) juga ada pelopor muda seperti bung tomo dan lainnya. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.
    Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

    Kalo sejarah sekarang serba kebetulan, pas hari pahlawan schoolnet turun...
    Semoga membuka mata kita bahwa tanpa pahlawan kita tidak bisa internetan, bahwa tanpa pahlawan kita masih nenteng pacul bukan netbook, tanpa pahlawan kita belum bisa saling berkirim informasi dan berkomunikasi sehebat ini....


    Sumber : http://deburanombak.com/
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    3 comments:

    1. Memang peran Ulama sangat besar sekali dalam perjuangan melawan penjajah, namun seakan gak berbekas sekarang ini dan buku sejarah di sekolahan juga seakan menafikkan peran tersebut. nitip link ya pak Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa terbaik Indonesia

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Hari Pahlawan jadi Pahlawan dicampus Kami Rating: 5 Reviewed By: Arif Kurniawan
    Scroll to Top